logo banner honai/home page


EKOLOGI KAMORO - BAB V.

© Kal Muller, 2004. (English version)


01. Racun yang berasal dari dua jenis Derris rambat digunakan untuk menangkap ikan. Kelompok ikan-ikan ini hasil tangkapan dengan cara menempatkan racun tersebut dalam genangan air di sebelah sebuah kali yang berlokasi di dekat perkampungan kapiri kame di dalam Desa Iwaka. Akibat dari rambatan tersebut langsung dirasakan oleh ikan-ikan. Dalam waktu 10 hingga 15 menit mereka sudah terapung tanpa daya di permukaan.

02. Pohon sagu penting, karena disamping menjadi makanan pokok juga berfungsi sebagai bahan bangunan. Banyak jenis pohon lainnya juga dapat digunakan untuk membangun rumah, baik yang terdapat dalam paya-paya hutan bakau, maupun yang berada dalam hutan tropis. Walaupun mengumpulkan bahan-bahan tersebut dapat memakan waktu beberapa hari, namun pembangunan sebuah rumah itu sendiri dapat dilaksanakan hanya dalam satu sampai dua hari oleh satu tim pria yang penuh dedikasi.

03. Daun pohon sagu merupakan bahan yang lebih disukai untuk atap. Membuat atap secara tradisional dengan bahan tradisional, kini telah mulai tergeser oleh penggunaan seng. Penampilannya sangat tidak menarik, sangat panas untuk tinggal di bawah atap tersebut dan jika hujan sangat berisik sehingga tidak mungkin untuk berpikir secara rasional apalagi berbincang-bincang. Namun sisi positifnya, atap tersebut terbuat dari bahan besi yang dapat tahan lebih lama, serta dapat pula digunakan untuk mengumpulkan air.

04. Dinding rumah-rumah di pesisir terbuat dari bagian tengah daun pohon palem sagu. Ini dinamakan gaba-gaba di Indonesia Timur. Tiang-tiang penyangga tempat-tempat tinggal tersebut terbuat dari dua macam jenis pohon bakau, yaitu Rhizophora, disamping tiga bakau jenis utama. Bangunan-bangunan terbaik terbuat dari kayu besi setempat, yaitu intsia bijuga.

05. Paku-paku juga mulai semakin banyak digunakan untuk membangun rumah, tetapi bahan pengikat yang terbaik masih tetap rotan, Calamus spp., yang merupakan rambatan hutan yang kencang dan mudah dipilin. Dalam bahasa Kamoro rotan dinamakan kema, dan dilengkapi oleh dua jenis rambatan lainnya, yaitu Flagellarta indica dan Mussa enda.

06. Berbusana lengkap untuk menghadiri festival, Aman mengenakan busana yang dikepang dari batang tubuh pohon kembang sepatu, Hibiscus Tiliaceous, yang lazim dijumpai di daerah pesisir. Sebelum adanya gereja dan pemerintahan, penduduk pria tidak berbusana, atau sekedar mengenakan koteka. Kini, penduduk wanita kadang-kadang mengenakan blus yang terbuat dari bahan batang tubuh pohon kembang sepatu. Baik pria maupun wanita menggunakan pakaian jadi yang dibeli di toko-toko.

07. Melubangi bagian dalam sebatang tubuh pohon untuk membuat gendang, seorang pria meniup pada bagian halus yang terdapat di dalam batang pohon dengan sebuah pipa bambu secara teratur dan terkendali, agar memperoleh ketebalan yang tepat pada sisi-sisinya. Ada dua atau tiga jenis yang digunakan untuk bahan pembuat gendang: Hibiscus tiliaceous dan Thespesia popuimea.

08. Freeport telah membangun sebuah sentra pahat bagi penduduk Kamoro di Timika. Selama pembangunan Kuala Kencana, para pemahat yang bekerja di sentra tersebut menerima banyak pekerjaan dalam bentuk patung-patung berukuran besar guna mendekorasi kota yang baru tersebut. Patung-patung yang berdaya tahan lama terbuat dari dua jenis kayu dari pohon yang keras setempat, Intsia bijuga dan i. pelambica yang lazim disebut kayu besi Maluku.

09. Sebuah pahatan yang besar, yang dinamakan mbitoro, adalah penting dalam tiap upacara adat penduduk Kamoro. Patung tersebut melambangkan seorang tua yang baru saja meninggal dunia yang bantuan dan perlindingannya kini diharapkan. Hanya pohon-pohon terpilih yang digunakan, dan berbeda dari desa ke desa. Di pesisir jenis tersebut adalah Myristica fatua di Desa Atuka dan Horsfeida irja di Desa Kekwa.

10. Sebuah tiang totem, sebagaimana halnya sebuah pahatan, melambangkan satu atau dua orang tua berkuasa yang baru meninggal dunia dan yang patut diperingati/dihormati oleh seluruh desa. Hanya beberapa jenis pohon tertentu yang boleh dipergunakan untuk pahatan tersebut, termasuk Myristica fetua dan Horsfeida irja.




  © Copyright UNIPA - ANU - UNCEN PapuaWeb Project, 2004.

honai/home page