SAYA TOLAK APA YANG DINAMAKAN POLITIK SELF-DETERMINATION PEMERINTAH BELANDA
Statement Presiden Republik Indonesia
Kepada Pers Jepang
Di Tokio, 20 September 1961
Case: President Sukarno's reactions in connection with
Queen Juliana's annual address before the Dutch Parliament.
"I appreciate Queen Juliana's goodwill towards the West Irian
problem. I know, Queen Juliana has in mind the so called policy
of "self-determination".
I know also what such a policy of "self-determination" under
foreign supervision can bring about. The application of such a
policy is not new for us. In Vann Mook's time such a policy of so
called "self-determination" resulted in the formation of a "Free
East Sumatra", a "Free South Sumatra", a "Free Pasundan
(West Java)" a "Free East Java", a "Free Madura", a "Free
East Kaminantan", a "Free East Indonesia", and other so called
autonomous territories. In doing so, Van Mook actually
balkanized Indonesia.
But in 1950 the united people of Indonesia put an end to the life
of these so called "Free States", and restored the unitarian Republic
of Indonesia.
I reject this so called "self-determination" policy, of the Dutch
Government. This policy leads only to trouble in the future.
Let the Dutch Government execute forthwith the transfer of administration
over West Irian to the Republic of Indonesia, the way I indicated in my address
of 17th August last at Jakarta, and in my Address in Belgrade Conference.
That is a better way. It guarantees the normalization of the relationship
between the Republic and the Netherlands".
Hal: Reaksi Presiden Sukarno berhubung dengan pidato
tahunan Ratu Juliana di depan Parlemen Belanda.
Saya menghargai goodwill Ratu Juliana terhadap masalah Irian
Barat. Saya tahu yang dimaksud oleh Ratu Juliana ialah apa yang
dinamakan politik "self-determination".
Saya juga mengetahui apa yang dapat diakibatkan oleh politik
"self-determination" semacam itu yang berada di bawah
pengawasan asing. Penggunaan politik semacam itu bukanlah
merupakan hal yang baru bagi kami. Dijaman Van Mook politik
yang dinamakan politik "self-determination" semacam itu
menghasilkan pembentukan suatu "Sumatera Timur Merdeka",
suatu "Sumatera Selatan Merdeka", suatu Pasundan Merdeka",
(Jawa Barat), suatu "Jawa Timur Merdeka", suatu "Madura
Merdeka", suatu "Kalimantan Timur Merdeka", suatu "Indonesia
Timur Merdeka", dan lain-lain yang dinamakan daerah-daerah
otonomi. Dengan demikian Van Mook sebenarnya membalkanisasi Indonesia.
Akan tetapi pada tahun 1950 bangsa Indonesia yang bersatu telah
mengakhiri hidup dari apa yang dinamakan "Negara-negara
Merdeka" itu dan memulihkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Saya tolak apa yang dinamakan politik "selfdetermination"
Pemerintah Belandaini. Politik semacam ini hanya menimbulkan
kekacauan dimasa depan.
Sebaiknya Pemerintah Belanda segera melaksanakan penyerahan
administrasi atas Irian Barat kepada Republik Indonesia, secara
yang saya singgung dalam pidato saya pada tanggal 17 Agustus
yang lalu di Jakarta dan dalam pidato saya di Konperensi
Beograd.
Itulah jalan yang lebih baik. Cara ini dijamin normalisasi
hubungan antara Republik Indonesia dan Belanda.
|