MEMBEBASKAN IRIAN BARAT DENGAN SEGALA JALAN
Pidato Presiden Sukarno
Pada Akademi Pembangunan Nasional
Di Yogyakarta, 18 Maret 1962
Saudara-saudara sekalian.
Hari ini saya mampir di Yogyakarta atas permintaan Menteri
Sambas untuk memberikan do'a restu dan amanat kepada para
lulusan Akademi Pembangunan Nasional khususnya, dan
umumnya kepada seluruh rakyat dalam rangka Trikomando
Rakyat.
Saudara-saudara para lulusan, sarjana-sarjana muda.
Beberapa tahun saudara-saudara menggali ilmu-ilmu
pengetahuan yang praktis bagi pembangunan dalam Akademi
Pembangunan Nasional Veteran ini. Dan sekarang, saudara-
saudara berdiri dihadapan pintu-pintu gerbang, pintu-pintu
gerbang ini untuk masuk kedalam masyarakat, untuk secara aktif
di dalam masyarakat itu menyumbangkan tenaga saudara-saudara
kepada pembangunan nasional. Saudara pada waktu menggali
ilmu pengetahuan itu tentu telah merasa sendiri bahwa ilmu
pengetahuan, yang tadi saya namakan ilmu pengetahuan praktis
itu, sekadar adalah bekal saja, bekal untuk - sebagai tadi saya
katakan - secara aktif membangun, membantu, menyumbang
kepada pembangunan nasional. Lebih dari pada bekal itu masih
ada dasar, saudara-saudara, lebih penting daripada bekal itu, --
bekal itu ialah ilmu pengetahuan yang praktis-, adalah dasar,
dan tiada dasar, dan tiada dasar ini saudara-saudara tak mungkin
dapat membantu sepenuhnya dalam pembangunan nasional.
Ini tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan, apalagi ilmu
pengetahuan praktis yang saudara hirup di dalam Akademi
Pembangunan Nasional Veteran ini, tidak berguna, o tidak!, Ilmu
pengetahuan itu adalah malahan satu syarat yang mutlak pula,
tetapi kataku tadi, lebih daripada itu, dus lebih mutlak daripada
itu adalah satu hal lain, satu dasar. Dan yang dimaksudkan dengan
perkataan dasar yaitu karakter. Karakter adalah lebih penting
daripada ilmu pengetahuan.
Saya ulangi, ini tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan
itu tidak perlu, tidak! Ilmu pengetahuan tetap adalah suatu syarat
mutlak. Tanpa karakter yang gilang gemilang orang tak dapat
membantu kepada pembangunan nasional, oleh karena itu
pembangunan nasional itu sebenarnya adalah satu hal yang
berlangit amat tinggi sekali, dan berakar amat dalam sekali. Ber
akar amat dalam sekali, oleh karena akarnya itu harus sampai
kepada inti-inti daripada segenap cita-cita dan perasaan-perasaan
dan gandrung-gandrungan rakyat. Dalam oleh karena itu akar-
akar demikian dalamnya sampai dapat mencapai tetes-tetes
keinginan rakyat yang telah meresap di dalam bumi Indonesia
ini berabad-abad lamanya. Sampai kepada akar-akar yang paling
dalam, paling lembut daripada apa yang saudara kenal
semuanya dengan perkataan Amanat Penderitaan Rakyat. Dan
untuk mengenal ini, lebih daripada mengenal sebenarnya, untuk
ikut merasakan, ikut "beleven" dalam perkataan asing untuk ikut
"beleven" Amanat Penderitaan Rakyat itu, diperlukan satu
karakter yang gilang gemilang karakter yang dalam.
Orang yang tidak mempunyai karakter yang dalam tidak
mampu untuk menyelami, untuk merasakan, untuk ikut "beleven"
Amanat Penderitaan Rakyat itu. Orang yang karakternya tidak
dalam, yah sekadar - sebagaimana biasa - hidup untuk diri
sendiri, merasakan keperluan diri sendiri, bahkan bercita-citakan
cita-cita diri sendiri pula. Maka oleh karena itu saya tadi berkata
bahwa lebih perlu mutlak, lebih penting dari pada ilmu
pengetahuan yang praktis, ilmu pengetahuan pada umumnya,
adalah karakter. Malahan saya berkata demikian dalamnya
karakter itu harus sampai yang setinggi-tingginya. Sebab Amanat
Penderitaan Rakyat itu bukan sekadar hal yang meresap kedalam,
saudara-saudara. Tetapi juga hal yang melangit, yang dinamakan
cita-cita, cita-cita daripada rakyat cita-cita baik cita-cita politik
maupun cita-cita ekonomis, maupun cita-cita sosial. Cita-cita
yang mengawan, yang melangit setinggi-tinggi cita-cita, cita-cita
yang sebagai saya katakan kepada pemuda-pemuda, harus
laksana tercantum kepada bintang-bintang dilangit. Dan hanya
orang yang mempunyai karakter yang demikianlah bisa mengejar
dan mengerti "beleven" pula cita-cita yang setinggi bintang
dilangit itu.
Nah, maka saudara-saudara sekarang ini mengerti bahwa
karakter yang saudara harus miliki untuk dapat membantu didalam
pembangunan nasional, bukan saja mendalam tetapi harus pula
melangit. Harus menjadi satu karakter yang sah, ya belum
menemukan perkataannya, saudara-saudara , tetapi saudara
mengerti apa yang saya kehendaki.
Tatkala masih muda, saudara-saudara, maka inilah salah
satu amanat daripada pemimpin saya, pemimpin yang membentuk
saya ini. Dan amanat ini saya sampaikan kepada saudara-saudara
menghadapi pembangunan nasional, saudara malahan dilatih
didalam Akademi Pembangunan Nasional, pembangunan
nasional yang didalam bahasa asing dinamakan "nation building".
Pembangunan yaitu "building", nasional yaitu "nation"
pembangunan nasional adalah "nation building", membangun
satu bangsa didalam segala facetnya, bukan sekadar membangun
satu bangsa agar supaya bangsa itu jumlahnya besar, bukan
sekadar satu bangsa, agar supaya bangsa itu terdiri daripada
orang-orang yang sehat, tidak satu bangsa yang mempunyai nilai
sebagai bangsa, bangsa yang selengkap-lengkapnya dan
sesempurna-sempurnanya.
Setelah saya sentil nilai politik, nilai ekonomis, nilai sosial,
nilai akhlak, dan untuk ini sebagai saudara-saudara ketahui telah
diberikan dasarnya yang lima, yang saudara-saudara telah kenal
semuanya, yaitu Pancasila. Itu sekadar garis, saudara-saudara.
Dan orang yang tidak berkarakter tidak bisa nggayuh Pancasila.
Orang yang tidak berkarakter tidak bisa mengerti Pancasila. Dan
orang yang tidak berkarakter tidak bisa nggayuh Pancasila.
Orang yang tidak berkarakter tidak "beleven" Pancasila. Orang
yang tidak berkarakter tidak bisa hidup dalam suasana Pancasila
itu dengan semesra-mesranya. Ini perkataan yang tepat, mesra.
Ini yang saya kehendaki daripada segenap pemuda-pemuda,
pemudi-pemudi Indonesia, segenap rakyat Indonesia, segenap
pekerja Indonesia, supaya dapat "beleven" Pancasila, "beleven"
Amanat Penderitaan Rakyat itu semesra-mesranya.
Saudara-saudara, didalam hal menceritakan "nation building"
dilapangan politik, dilapangan ekonomi, dilapangan sosial,
dilapangan akhlak yang tadi dengan singkat oleh Pak Sambas
dikatakan sosialisme Indonesia, dan oleh Bambang Suroto juga
disebut perkataan sosialisme Indonesia itu. Itu tidak cukup,
saudara-saudara melihat negara-negara sosialis yang lain
dimaksudkan oleh kita dengan perkataan sosialisme. Melihat toh
negara sosialis itu yang menjadi contoh kita, kita mesti menjadi
begitu. Itu negara sosialis, itu contoh kita mesti menjadi begitu.
Tidak. Kita punya sosialisme adalah satu sosialisme yang lebih
dalam dan lebih tinggi. Satu sosialisme yang tadi, yang
perkataannya saya tidak bisa mendapatkan, saudara-saudara.
Ini didalam satu universail sosialisme yang berdasarkan
dalam bentuk perkataan Pancasila, saudara-saudara sehingga
pernah didalam pidato 17 Agustus dua tiga tahun yang lalu saya
berkata, bahwa Pancasila itu adalah de hofere optrekking, kataku,
baik daripada ajaran Declaration of Independence Amerika
maupun daripada ajaran Komunisme. Een horege optrekking,
jadi ini adalah lebih tinggi daripada Komunisme, lebih tinggi
daripada Declaration of Independence Amerika, satu hal yang
lebih tinggi, maka oleh karena itu saya minta kepada saudara-
saudara sekalian, jangan dimengerti perkataan sosialisme sebagai,
ya, yang kita kenal itu.
Sekarang kita ini, sosialisme ini, sosialisme Indonesia,
banyak yang meniru, saudara-saudara. Saudara-saudara tahu, kita
pelopor dalam Proklamasi Kemerdekaan, diikuti oleh bangsa
bangsa lain. Kitapun pelopor didalam mengucapkan perkataan
sosialisme yang berkepribadian bangsa sendiri, ditiru sekarang
ini, entah menirunya itu bisa "plek" atau tidak, lain perkara, bukan
urusan kita. Ditiru oleh Republik Persatuan Arab, mereka
mengatakan akan mengadakan sosialisme Kamboja,
mengadakan sosialisme Kamboja, bahkan disana ada pergerakan
pemuda-pemuda sosialis Kamboja.
Saudara-saudara, saya ulangi lagi, sosialisme kita adalah
satu sosialisme yang dengan lukisan kata dilukiskan sebagai
Pancasila dan Pancasila itu, dus sosialisme kita adalah satu horege
optrekking suatu pengangkatan yang lebih tinggi dari pada
Decleration of Independence yang diucapkan oleh Thomas
Jefferson di Amerika pada tahun 1776 dan horege optrekking
pula daripada segala ajaran yang kita kenal sebagai sosialisme,
komunisme, Marxisme dan lain-lain sebagainya. Sebab mengenai
urusan politik, mengenai urusan ekonomi, mengenai urusan
sosial, mengenai urusan mental dan akhlak, bahkan sampai
saudara-saudara tahu Pancasila itu salah satu dasarnya ialah
Ketuhanan Yang Maha Esa.
Saudara-saudara, baiklah pada waktu sekarang, saat
sekarang ini, sesudah saya memberikan garis-garis besar daripada
bekal yang saya beri kepada para lulusan daripada Akademi
Pembangunan Nasional ini, saya menceritakan sedikit pula
tentang hal pembangunan nasional dilapangan politik. Saya tadi
berkata, bahwa pembangunan nasional adalah nation building,
nation building yang universil mengenai segala lapangan, baik
ekonomi, maupun sosial, maupun mental, maupun akhlak,
maupun keagamaan, maupun politik. Tentang hal pembangunan
politis ini , saudara semuanya tadipun berkata: "Minta diberi
amanat pada rakyat mengenai Trikomando". Trikomando Rakyat
adalah untuk membulatkan revolusi politik kita memasukkan Irian
Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, sebagai salah satu
unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat.
Amanat Penderitaan Rakyat berisikan beberapa unsur, ada
unsur politiknya, ada unsur sosialnya, ada unsur akhlak dan
agamanya. Unsur politiknya ialah, saudara-saudara, bahwa rakyat
dengan penderitaannya yang berpuluh-puluh, beratus-ratus tahun
itu mengamanatkan kepada kita agar supaya kita hidup sebagai
suatu negara yang bebas, merdeka, berdaulat, berwilayah
kekuasaan antara Sabang sampai Merauke, berbentuk Republik
Demokratis. Itu adalah salah satu unsur daripada Amanat
Penderitaan Rakyat.
Nah, oleh karena negara kesatuan yang berwilayah
kekuasaan antara Sabang sampai Merauke yang berbentuk
Republik itu belum tercapai sempurna, yaitu Irian Barat belum
masuk didalam wilayah kekuasaannya, maka kita didalam waktu-
waktu yang sekarang ini berjuang hebat-hebat untuk
memasukkan Irian Barat itu kedalam wilayah kekuasaan
Republik. Dan Trikomando Rakyat diucapkan pada tanggal 19
Desember yang lalu untuk itu.
Dan saya tegaskan disini, sekali lagi, dan saya minta dicatat
betul-betul oleh wartawan-wartawan, bahwa Trikomando Rakyat
itu tidak ditarik kembali, sebaliknya malahan saya pada waktu
saya mengucapkan pidato Idul Fitri beberapa hari yang lalu, saya
tegaskan, saya malahan memerintahkan agar supaya Trikomando
ini dipergiat. Trikomando Rakyat yang diucapkan di Yogyakarta
pada tanggal 19 Desember itu tidak dicabut kembali, masih
berjalan terus, bahkan harus dipergiat. Dipergiat, meskipun
sekarang ini yah, sekarang ini akan ada pertemuan yang
dinamakan pertemuan rahasia.
Ya, saudara-saudara, sekali lagi, kepada para veteran yang
dulu bertempur hebat-hebatan untuk mendatangkan satu negara
Republik Indonesia Kesatuan berwilayah kekuasaan antara
Sabang sampai Merauke, kepada saudara-saudara saya ulangi
lagi, dengan tegas, Trikomando Rakyat tidak dicabut kembali,
bahkan harus dipergiat. Malahan saya tandaskan lagi disini buat
kedua-kalinya apa arti Trikomando. Trikomando berarti
membebaskan Irian Barat daripada kolonialisme Belanda.
Trikomando berarti agar supaya kita memasukkan Irian Barat
itu kedalam wilayah kekuasaan Republik kembali, dengan segala
jalan. Pegang teguh perkataan ini: dengan segala jalan! Jalan
apa? Diplomasi. Jalan apa, kataku pada waktu Idul Fitri? Infiltrasi,
gremetono Irian Barat! Dengan jalan pertempuran-pertempuran
kecil, dengan jalan pertempuran-pertempuran besar, dengan jalan
pertempuran-pertempuran total, kataku. Pendeknya, dengan
segala jalan halal, halal menurut agama, halal menurut mental
kita sebagai bangsa, harus kita bebaskan Irian Barat daripada
penjajahan Belanda atau penjajahan apapun.
Ini tidak dicabut kembali, malahan sekarang saya ulangi
lagi saudara-saudara. Lho, akan ada pertempuran besar atau
pertempuran kecil, itu tergantung daripada sana. Kita cuma beniat
akan membebaskan Irian Barat. Dan membebaskan Irian Barat
apa? Yaitu mengibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat,
memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan kita. Lho,
kalau itu bisa berjalan dengan, ya baik-baik bicara dengan
Belanda, ya baik-baik bicara dengan Belanda. Tetapi kalau perlu
menjalankan infiltrasi, ya jalankan infiltrasi itu dengan gremetan
yang sehebat-hebatnya. Kalau disana mengadakan perlawanan,
kalau disana mengadakan perlawanan dengan pertempuran kecil,
hantam, kitapun mengadakan dengan pertempuran kecil. Kalau
disana mengadakan perlawanan dengan pertempuran besar,
hantam pula, kitapun menjalankan dengan pertempuran besar.
Bahkan sampai konklusi setinggi-tingginya saya berkata, jikalau
perlu dengan peperangan yang total. Kita harus memasukkan
Irian Barat kewilayah kekuasaan Republik, insya Allah
Subhanahu Wata'ala dalam tahun 1963 ini juga. Tegas
perkataanku pada waktu Idul Fitri dan pada waktu sekarang ini,
malahan pada waktu Idul Fitri saya berkata: opzijn Hollands: "Daar
is geen woor Fransbij". Orang Belanda begitu, kalau bicara
terang-terangan terus: "Daaar is geen woor Fransbij". Jelas cuma
dalam bahasa Belanda tok, jelas.
Dus saudara-saudara, dalam pada itu memang benar bahwa
akan ada pertemuan rahasia itu benar. Dan malahan sudah saya
kirim orang untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan
Belanda itu tanggal 20 bulan ini. Sekarang tanggal 18 bukan?
Nanti tanggal 20 dan tepatnya di kota Washington, memang
benar. Benar juga akan disaksikan pihak ketiga, itu benar. Cuma
pada permulaan di surat kabar ditulis namanya satu orang yang
saya dengan cukup tegas berkata: "Tidak mau saya itu, saya
tolak", saya tidak mau. Sebut dalam surat kabar yang dulu itu,
saya tolak, saya tidak mau.
Jadi benar bahwa nanti Insya Allah tanggal 20 bulan ini
akan ada perundingan rahasia. Benar bahwa tempatnya itu di
Amerika Serikat, dekat Washington. Tidak benar bahwa orang
yang disebut pertama itu akan menjadi pihak ketiga yang
menyaksikan.
Ada pihak ketiga tapi orang lain, itupun nanti saudara-
saudara akan dengar sendiri, Ha, ini andaikata ada orang bertanya
dikalangan kita sendiri: "Bagaimana ini? Kok katanya
Trikomando, kok ada pembicaraan rahasia, lho apa itu?"
Trikomando jalan terus.Trikomando itu saya ulang lagi --
pokok isinya: Memasukkan Irian Barat kedalam wilayah
kekuasaan Republik, membebaskan Irian Barat daripada
kolonialisme pada umumnya, dengan segala jalan. Jalan apa?
Yo nek diplomasi perlu, yo dengan diplomasi. Pertempuran kecil
perlu, yo pertempuran kecil. Pertempuran besar perlu, yo
pertempuran besar. Pendeknya dengan segala jalan yang halal,
halal bagi kita sebagai bangsa yang wajib bagi kita sebagai bangsa
membebaskan diri kita sendiri dari segala cengkeraman asing,
wajib pula sebagai agama. Itu Pak Profesor Farid Ma'ruf ada
duduk disini, wajib apa tidak sebagai agama untuk membebaskan
suatu wilayah negeri kita yang dikungkung oleh orang asing?
Ya, betul? Ya betul, kata Pak Farid Ma'ruf.
Nah, saudara-saudara, saya berkata disini, dus segala jalan
yang halal, ya antara lain, kalau bisa dengan jalan diplomasi,
syukur Alhamdulillah kataku. Didalam pidato Nuzulul-Qur'an
saya berkata demikian. Didalam pidato Idul Fitri pun saya berkata
demikian. Daripada menumpahkan darah, lebih baik tidak. Kalau
kita memasukkan Irian Barat tanpa pertumpahan darah, malahan
saya akan berkata kepada pihak Belanda: "Ik dank U wel,
meneer". Ya, saya ulangi perkataan ini, malahan saya berkata
bahwa Insya Allah saya akan pergi ke negeri Belanda: "Ik dank
U wel, meneer". Dan saya berkata malahan, jikalau bisa dengan
jalan baik-baik begitu itu, kita mengembalikan Irian Barat
kedalam wilayah kekuasaan kita, kita mau menormalisir kembali
hubungan kita dengan negeri Belanda itu lantas seperti hubungan
normal kita dengan negara-negara lain. Sama dengan hubungan
kita dengan Inggris, sama dengan hubungan kita dengan
Amerika, sama dengan hubungan kita dengan Sovyet Uni, sama
dengan hubungan kita dengan Jepang, sama RRT, sama dengan
negara-negara yang lain.
Inipun jangan ada salah pengertian. Kalau pengertiannya
misalnya menormalisir itu berarti, dus bikin seperti dulu lagi,
Belanda duduk disini, lah itu salah. Tidak! Sekadar itu kita mau
hubungan normal dengan Belanda, seperti kita berhubungan
dengan negara-negara lain. Sekarang ini tidak normal, sebab kita
putuskan hubungan diplomatik dengan Belanda, kita tidak ada
hubungan diplomatik apapun dengan Belanda. Berapa tahun
sudah, saya putuskan ini? 17 Agustus 1958, kata Pak Sarbini.
Sekarang sudah empat tahun hampir, saudara-saudara, kita tidak
ada hubungan diplomatik sama sekali dengan Belanda. Tetapi
saya berkata, jikalau Irian Barat dikembalikan kepada kita dengan
cara baik-baik, begitu, kita mau menormalisir kembali hubungan
Indonesia-Belanda, yaitu hubungan seperti dengan negara-negara
asing yang lain.
Saudara-saudara, kini perkataan ini sudah dibikin tidak
keruan oleh pihak Belanda. Terus terang, memang tadinya,
dibantu oleh menteri luar negeri, dibantu oleh Pak Djuanda dan
lain-lain saya sudah bersetuju untuk mengadakan kontak rahasia
dengan pihak Belanda. Betul-betul "secret meeting". Tetapi
menurut anggapan saya, "secret itu" yo ojo ono sing weruh.
Kalau diketahui orang lain, kan bukan "secret", saudara-saudara.
Saya setuju diadakan "secret meeting". Malahan saya-terus
terang- berkata pada pihak yang mengatakan : "Ha mbok Yo
adakan secret meeting dulu," kataku: "Okey, secret meeting".
Bahasa Inggrisnya: as prepraration to a forman talk about the
transfer if administration over West Irian to Indonesia". Pegang
betul ini mahasiswa APN kan ngerti Inggris semuanya toh? Lebih
dahulu "as aprepraration" itu yang saya terima, "as aprepraration"
yang saya tidak terima terus terang saya tidak terima dikatakan
tadinya itu "as an explore". "Exploration" itu sekadar ya, "to
explore", apa artinya? "Explore" itu ialah dijajaki, coro jawane
dijajaki, digogohi, diselidiki. Saya berkata, saya tidak mau "as
an exploration", saya mau "secret talk as a preparation ti a formal
talk", dan formal talk ini "about the transfer of administration
over West Irian to Indonesia". Saya katakan "to Indonesia"
jangan "transfer of administration to Dewan Papua". Jangan
"transfer of administration transfer of administration to United
Nations", saya berkata dalam pidato Idul Fitri: Saya tidak mau
terima Irian Barat diserahkan kepada PBB atau diserahkan kepada
"Dewan Papua", tidak! "Transfer of administration over West
Irian to the Republic Indonesia".
Jelas kan itu. Saya ulangi disini dengan suara tandas: Itu
tetap menjadi pegangan kita. Kita tidak mau bicara formil dengan
Belanda kalau tidak atas dasar penyerahan pemerintahan Irian
Barat kepada Indonesia. Camkan betul-betul! Sebab itu ada suara-
suara kletak-kletik, kletak-kletik, kletak-kletik, wah, ini kok ada
secret talk, ini barangkali akan dikompromikan. Tidak! Kami
tidak mengkompromikan, kami hanya mau bicara formil dengan
pihak Belanda mengenai cara penyerahan pemerintahan Irian Barat
kepada Republik Indonesia. Caranya, jadi tidak mengenai
substansi, tidak mengenai persoalan diserahkan apa tidak. Tidak!.
Harus hanya membicarakan cara penyerahan pemerintahan atas
Irian Barat kepada Republik Indonesia. Itu saja yang kami mau.
Kita, Republik Indonesia, mau hanya itu tok, dan jikalau perlu
diadakan suatu pembicaraan lebih dahulu, okey! Tetapi "as a
preparation to this talk". Hanya sebagai persiapan kepada
pembicaraan formil ini, bukan as an exploration.
Lha, tadinya itu secret, saudara-saudara lha kok dibocorkan
oleh pihak Belanda. Bocorkan ini, bocorkan itu, malahan
dibicarakan dalam suatu press-conference atau bagaimana. Wah,
kalau situ membocorkan, ya sudah, saya juga bocorkan. Dan
saya punya pembocoran itu apa? Ini tadi, pembocoran saya itu,
bahwa ini secret talk saya mau sebagai exploration, harus sekedar
sebagai "persiapan" "preparation to formal talk, formal talk about
transfer of administration over Irian Barat to Republic if Indonesia".
"Daar is ook geen woord Frans bij". Jelas.
Nah, lantas bagaimana? Saya tadi sudah berkata, tanggal
20 nanti mulai, dan orangnya pun sudah saya kirim. Dan opdrafht
saya kepada orang ini, yaitu: "Engkau nanti kalau berhadapan
dengan pihak Belanda membicarakan transfer itu pada secret talk
itu, jangan bicara panjang-panjang, saya bilang. Ya, lebih dulu
tanya saja: Ha, ini pembicaraan mau preparation tidak? Kalau
disitu menjawab, mau ini, mau itu katakanlah tidak. Ini saya cuma
tanya, preparation apa tidak? To formal talk about the transfer of
administration, ya apa tidak? Nanti jikalau ada formal talk itu
"waarover gaar het", akan membicarakan apa? Ya, akan
membicarakan misalnya o ini, o, itu. Tidak, tidak kami tidak mau.
Kami hanya mau bicara formil atas cara bagaimana cara
penyerahan pemerintahan di Irian Barat kepada Republik Indonesia.
Dus umpamanya saya menjadi duta, yaitu duta untuk secret
talk, gampang sekali, didalam tempoh lima menit sebetulnya
bisa beres.
"Ya, gode morgen, minjheer, gaaat U Daar zitten". Cuma
tanya, apakah negeri Belanda bersedia untuk mengadakan for-
mal talk, pembicaraan formil, membicarakan cara penyerahan
kekuasaan pemerintahan atas Irian Barat kepada Republik Indo-
nesia. Itu saja.
Ya of neen, minjheer?" "Inggih menopo mboten?" Dalam
lima menit sebetulnya bisa beres. Malah saya terus terang, saya
perintahkan kepada utusan kita itu, jangan bicara panjang-
panjang.
Lekaslah pulang, bawa jawaban mereka. Sebab
Trikomando Rakyatpun berjalan terus, dan Trikomando Rakyat
itu, saudara-saudara, ialah dengan tekad untuk membebaskan
Irian Barat dalam tahun ini juga masuk kedalam wilayah
kekuasaan Republik Indonesia.
Ya, marilah kita sekadar mendoa dan mengharap, agar
supaya pihak Belanda memang mau menyerahkan pemerintahan
kepada kita atas Irian Barat via satu pembicaraan yang formil.
Tetapi kalau tidak mau pembicaraan formil, itu urusan mereka.
Kita berdiplomasi, dengan ini, dengan itu. Dengan segala hal
yang halal, kita insya Allah Subhanahu Wata'ala bebaskan Irian
Barat didalam tahun ini juga, dimasukkan didalam wilayah
kekuasaan Republik. Dan itu urusan kita bukan urusan Belanda.
Tekad kita ini: akan memasukkan Irian Barat kedalam wilayah
kekuasaan kita sendiri, itu urusan kita. Nah, tergantung dari sikap
sanalah bagaimana jadinya. Segala-galanya sudah
diperhitungkan oleh pemerintah, oleh kita. Diperhitungkan,
segalanya, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu.
Sudah dipertimbangkan dan konklusi daripada pertimbangan-
pertimbangan ini ialah: Jalan terus, Trikomando jangan stop,
giatkan Trikomando ini agar supaya Irian Barat masuk kedalam
wilayah kekuasaan kita tahun ini juga.
Nah, engkau, hai lulusan APN, ketahuilah bahwa ini adalah
satu bagian daripada nation building dan engkau telah berjanji
dengan memasukkan diri dalam APN. Dan sekarang menjadi
lulusan daripada APN untuk membantu keras kepada nation
building ini, baik dilapangan politik, maupun didalam lapangan
ekonomi, maupun didalam lapangan sosial, maupun didalam
lapangan mental dan akhlak dan keagamaan. Bekerjalah dengan
giat, saudara-saudara. Perlunya saya mampir ke Yogyakarta inilah
untuk berbicara dengan saudara-saudara sekalian.
Saudara-saudara adalah salah satu bagian daripada harapan
rakyat. Rakyat mengharapkan pemenuhan daripada Amanat
Penderitaannya. Itu kepada segala pemuda-pemudi, kepada segala
lapisan masyarakat kita. Saudara-saudara adalah satu bagian
daripada lapisan-lapisan itu. Bekerjalah dengan baik dan sebagai
tadi saya katakan pada mulanya, karakter adalah perlu, mutlak.
Karakter yang setinggi-tingginya, karakter yang semulia-
mulianya.
|